UGM Garap Prototipe Candi Borobudur Versi Metaverse

  • Share

Center of Excellence in Metaverse Science Fakultas Matematika dan Sains (FMIPA) Universitas Gadjah Mada (UGM) sedang mengembangkan prototipe Candi Borobudur versi Metaverse.

UGM Garap Prototipe Candi Borobudur Versi Metaverse

Seperti dilansir Suara.com, rencananya tidak akan lama lagi prototipe Candi Borobudur versi Metaverse ini diluncurkan.

UGM-Garap-Prototipe-Candi-Borobudur-Versi-Metaverse

Baca juga:
– Kerjasama Huawei dan UGM semakin erat dalam mengembangkan talenta digital
– Pakar UGM: Tanah virtual metaverse yang menjanjikan untuk investasi masa depan
– UGM, Binus dan Gunadarma memperebutkan gelar di FCL 2021
– Dosen UGM raih Hermes Startup Award 2020 dengan Konsep Smart Farming 4.0

“Targetnya kita luncurkan (prototype, red.) versi mini dalam rangka Dies Natalis FMIPA pada September 2022,” kata koordinator Center of Excellence for Metaverse Science FMIPA UGM, Dr Wiwit Suryanto saat dihubungi di Yogyakarta, Senin (4/7/2022).

Ia mengatakan prototipe tersebut akan dirancang bersama PT Arutala Digital Innovation, salah satu perusahaan pionir yang bergerak di bidang virtual reality dan augmented reality di Yogyakarta.

“Kami akan mulai mendesain pada Juli,” katanya.

Wiwit yang juga Associate Dekan Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat FMIPA UGM mengatakan, ide konsep versi virtual candi Borobudur di metaverse sudah ada sejak berdirinya Center of Excellence in Metaverse Science, yang didirikan didedikasikan pada awal 2022.

Salah satu tujuannya, kata dia, agar penyandang disabilitas fisik, usia, atau disabilitas lainnya tetap berkesempatan menjelajahi setiap sudut Candi Borobudur tanpa harus memanjat langsung ke bangunan candi aslinya.
Didukung oleh GliaStudio

Dengan teknologi virtual reality, masyarakat dapat melihat bentuk bangunan candi secara utuh.

“Terkadang ada orang yang tidak bahagia jika tidak naik sendiri. Tapi ada orang yang tidak harus naik, yang terpenting bisa merasakan. Kalau tujuannya untuk melihat relief, kemudian dia ingin belajar sejarah, saya kira metaverse bisa menggantikan objek aslinya,” ujarnya.

Selain itu, Wiwit berharap inovasi ini juga menjadi solusi untuk mengurangi risiko kerusakan struktur bangunan Candi Borobudur yang tergerus atau rusak akibat gesekan kaki pengunjung.

Berdasarkan konsep yang dirancang, pengunjung Borobudur versi Metaverse akan merasakan sensasi berbeda seperti di dunia nyata, seperti hembusan angin dan panasnya matahari.

“Kita juga bisa menciptakan sensasi sunset di Borobudur,” ujarnya.

Pengunjung juga diperbolehkan merasakan seolah-olah sedang menginjak anak tangga batu Candi Borobudur dalam keadaan aslinya.

Namun, lanjut Wiwit, untuk merasakan semua sensasi tersebut, wisatawan tetap harus datang langsung ke studio yang nantinya bisa didirikan di kompleks candi Borobudur yang dilengkapi berbagai perangkat pendukung teknologi Metaverse.

“Saya yakin nanti banyak yang tertarik. Apalagi yang punya keterbatasan fisik, apalagi kalau tiketnya murah, misalnya,” ujarnya.

Ia berharap konsep pengembangan Candi Borobudur versi virtual di metaverse akan mendapat respon dan dukungan positif dari pemerintah termasuk PT Taman Wisata Candi Borobudur dan Badan Otorita Borobudur setelah prototipe diluncurkan.

Wiwit mengaku FMIPA UGM mengajukan proposal pembangunan Candi Borobudur versi Metaverse pada awal 2022 untuk mendapatkan dana penelitian dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi, namun tidak disetujui.

“Kami akan mencari alternatif pembiayaan. Nanti kalau prototype-nya dibuat, masyarakat bisa melihat manfaatnya,” ujarnya.

Inilah rencana FMIPA UGM dalam mengembangkan prototipe Candi Borobudur versi Metaverse yang akan segera dirilis.

Baca Juga :

https://altech.co.id/

  • Share