Learning rate dengan istilah baru, jauh lebih efektif bukan?

  • Share

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) baru saja membagikan kuota belajar terbaru pada awal Maret lalu. Namun berbeda dengan sebelumnya, learning rate ini akan dibagikan dengan ketentuan baru.

Learning-rate-dengan-istilah-baru,-jauh-lebih-efektif-bukan

Sementara itu, kuota belajar dibagikan pertama kali pada September 2020.

Kuota tersebut berlaku jika kuota dibagi menjadi dua bagian, yaitu umum dan studi. Kuota umum untuk akses ke semua situs web tanpa kecuali dan kuota studi untuk akses hanya ke situs web yang diizinkan.

Kuota untuk siswa PAUD adalah 20 GB per bulan (kuota umum 5 GB dan kuota belajar 15 GB), siswa SD dan SMP 35 GB per bulan (kuota umum 5 GB dan kuota belajar 30 GB), guru PAUD dan 42 GB dasar – dan pendidikan menengah per bulan (kuota umum 5 GB dan kuota belajar 37 GB) dan dosen dan mahasiswa 50 GB per bulan (kuota umum 5 GB dan kuota studi 45 GB).

Aturan kuota mahasiswa sebelumnya juga banyak menuai kritik karena dinilai tidak efektif

. Hal ini dikarenakan guru dan siswa menggunakan kuota umum lebih banyak daripada kuota belajar.
Baca juga:
Cara Cek Bantuan Kuota Gratis Kemendikbud 2021 Untuk Semua Operator
Lantas apakah distribusi learning rate 2020 dengan regulasi baru lebih efektif dari sebelumnya?

Menurut Koordinator Nasional Persatuan Guru dan Pendidikan (P2G) Satriwan Salim, bantuan kuota pembelajaran akan kurang efektif pada 2020. Pasalnya, kuota pembelajaran masih banyak tersisa dan tidak dimanfaatkan oleh peserta yang mendapatkannya.

Karena kontingen pembelajaran hanya dapat digunakan pada sejumlah platform yang telah disetujui oleh Kementerian Kebudayaan. Sementara itu, banyak kegiatan belajar mengajar yang tidak menggunakan platform.

“Laporan P2G banyak (study rate 2020) karena kapasitas, giga sizenya besar tapi terbatas (akses),” ujarnya saat dihubungi detikEdu.

Dosen SMA Labschool Jakarta itu juga mencontohkan masalah tingkat belajar

yang kurang optimal. Hal ini dikarenakan jumlah kuota tidak terpakai oleh guru dan siswa.

Daripada tidak digunakan, lebih baik diberikan kepada guru dan siswa yang belum mendaftar, kata Satriwan. Artinya kuota studi tahun 2021 dapat dialokasikan lebih optimal kepada peserta yang memenuhi syarat.

“Sebaran evaluasinya adalah 35,5 juta pengguna nomor. Bahkan ada 59 juta nomor yang berhak. Artinya siswa dan pendidik yang berhak menerimanya belum diterima secara optimal. Kami berharap itu dioptimalkan, yang” tidak akan mungkin terjadi sebelumnya,” jelasnya.

Pj Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemdikbud, Hasan Habibie, yang dihubungi terpisah mengatakan, sebaran angka studi sudah mencapai 99,96% pada 2021. Sisanya 0,04%, namun tidak tersalurkan.

Hasan mengatakan, pembagian tarif studi pada tahun 2021 dilakukan berdasarkan data penerima hibah periode November-Desember 2020. Artinya, Kemendikbud tidak akan mendata ulang siapa saja yang menjadi penerima hibah. memenuhi syarat untuk menerimanya.

“Alasan tidak mendapatkan dukungan dari guru, dosen, mahasiswa dan mahasiswa pada Maret adalah sebagai berikut: Tidak ada dukungan dari November-Desember. Karena database kami menggunakan receiver untuk November-Desember,” jelasnya.

Selain itu, kata Hasan, penyebab lain peserta dan guru tidak mendapatkan kuota pembelajaran pada tahun 2021 adalah tidak dapat menggunakan tingkat kuota pada pembagian sebelumnya, status peserta sebagai guru dan siswa tidak aktif hingga jumlah peserta tidak lagi. aktif.

“Guru/dosen/mahasiswa/mahasiswa mendapat dukungan pada bulan November-Desember, tetapi penggunaannya kurang dari 1 GB. Oleh karena itu, kami tidak memasukkan mereka dalam distribusi pada bulan Maret. Status guru/dosen/mahasiswa/mahasiswa tidak aktif , diwisuda atau dimutasi ke Kemenag, status nomor ponselnya tidak aktif berdasarkan hasil verifikasi operator ponsel tersebut,” kata Hasan.

“Nomor ponsel tidak aktif dalam pembagian kuota 11-15 Maret. Berdasarkan hasil tes seleksi yang kami lakukan, status nomor ponsel yang tidak aktif menjadi salah satu faktornya,” lanjutnya.

Terkait hal tersebut, Putri Lestari (24), salah satu siswa asal Bekasi, Jawa Barat, mengaku telah mendapat kuota belajar untuk tahun 2021 dan mengaku bantuan tersebut sangat membantunya, meski bukan untuk pembelajaran jarak jauh (PJJ ).

Pasalnya ia menggunakan WLAN sendiri saat PJJ dan jarang menggunakan kuota belajarnya

“Efektif untuk menunjang kegiatan sehari-hari, bukan kegiatan perkuliahan, tapi karena ada WiFi. Tapi saya pikir itu wi

 

Lihat Juga :

gb whatsapp

gb whatsapp

gb whatsapp

gb whatsapp

gb whatsapp

 

 

  • Share